Aku masih sedih ketika harus kehilangan uang 5000 rupiah ku siang itu... tak tau kemana,, terakhir ku ingat uang itu masih ada disakuku,, namun sesaat ketika aku ingin membelanjakannya, uang itu begitu saja menghilang,, uang 5000 itu kawan dulu sangat berarti buatku, saat harga bahan pokok belum melambung tinggi, aku masih bisa membeli sebuah roti, dengan beberapa permen, coklat ayam jago , es cream mangkok, ditambah dengan jajanan yang lainnya,, atau mungkin besok uang itu bisa aku belikan sebungkus nasi uduk untuk sarapan, dan sisanya bisa ku berikan pada Bu Imah untuk ditabungkan.. uang itu juga adalah uang yang diberikan oleh kakaku yang baik itu, kakak nomor satuku,, namanya Bun Yanah kawan.. hari itu, iya pulang kerumah ,
Minggu, 26 April 2015
Cerita Bersambung,
Cerita Pendek,
cerpen,
kisah,
Kisah Kecil,
Potongan Kisahku,
Ulat Bulu Bagian 1
0
komentar
ULAT BULU : Bagian 1
Cerita Bersambung,
Cerita Pendek,
cerpen,
kisah,
Kisah Kecil,
Potongan Kisahku,
Pramuka Bagian 1
0
komentar
Pramuka :Bagian 1
"buaaakkkk..." kepalanku mengenainya,, tepat dipipinya.. tersungkur, iya mau jatuh, tapi beberapa sahabatnya memeganginya, membantunya bangkit.. "mau lagi... hah..!!!" aku masih emosi kawan... beberapa sahabatku pun juga ikut memegangiku kawan, bukan untuk membangkitkan aku,, tapi untuk meleraiku.. "udah man, udah,, jangan berantem lagi.." ... nafasku masih membara kawan, ingin sekali aku layangkan lagi pukulanku ini kearahnya.,, tapi lihatlah mereka kawan, sahabat yang meleraiku itu,,, seakan-akan sudah memaafkannya.. "Tarik kata-kata lu yang tadi,,!!! atau lu akan nyesel..!!" ucapku lantang...
Senin, 16 Maret 2015
Cerita Bersambung,
Cerita Pendek,
Kampus STAN : Pelataran,
kisah,
Potongan Kisahku
0
komentar
Kampus STAN : Pelataran
Kadang, jika Ku tengok Kebelakang, selalu kuperingatkan pada diriku
sendiri, bahwa itu sudah lama terjadi dan tak akan pernah terulang,
Namun setiap kali aku melewati tempat itu, rasa-rasanya ingin ku temukan
mesin waktu, Masuk didalamnya, memutar dan menekan tombol-tombol unik
yang penuh keajaiban, dan sejurus kemudian Wuuussshhhhhh.. terlemparlah
aku kembali kemasa dimana aku dulu duduk di situ Bersamanya. Pelataran
itu kini tak seperti Dulu, Ia nampak begitu Kokoh dengan beberapa Kramik
Marmer sebagai alasnya. Nasibnya pun kini lebih baik, karna tak seperti
Dulu kini ia selalu Di Lap dan di pel bersih oleh para Penjaga Gedung
yang saban hari tak pernah letih membersihkannya hingga mengkilap, luar
biasa sekali.
Minggu, 15 Februari 2015
Cerita Bersambung,
Cerita Pendek,
Kampus STAN : Ikan Gupy,
Kisah Kecil,
Masa SD,
Potongan Kisahku
0
komentar
KAMPUS STAN : Ikan Guppy
Binatang itu tak berukuran besar,
bahkan ia lebih kecil dari ikan Sepat yang aku tangkap beberapa hari yang lalu.
Namun ia special, special bagiku karna sebagian tubuhnya yang di penuhi
corak warna-warnidan beberapa bulatan hitam kecil yang menghiasi bagian
tubuhnya. Pun ketika mereka mengibas-ngibaskan ekor mereka dengan genit,
menggoda kami, padahal mereka adalah pejantan, bukan betina. Karna sang
betina yang ku tau badannya lebih besar sedikit dari pejantannya, pun
badannya tak bercorak, sehinhgga tak begitu menarik perhatian kami,
satu-satunya yang membuat kami tertarik padanya hanyalah jika ia, si
betina itu telah mencapai masa suburnya, hingga perutnya terisi dengan
beberapa puluh bakal buah anakan yang biasanya akan lahir dalam waktu
semalam Ikan Gupy, kecil nan menggoda, pun kami, suka mencarinya di
galangan Kampus STAN dekat rumah kami.
Sabtu, 14 Februari 2015
Cerita Bersambung,
cerpen,
Gunung Walat dan Bulir-bulir Jeruk : Bagian 4,
kisah,
Potongan Kisahku
0
komentar
Gunung Walat dan Bulir-bulir Jeruk : Bagian 4
Aku tak tau, bagaimana dan kapan Bulir-bulir jeruk itu tercipta, yang aku tau segala apa yang diucapkannya terhadapku menyudut kesatu arah, dan menyindir kesatu orang yaitu ”Aku” sendiri . Siang hari, acara berlanjut ke Outbond, yang telah kami persiapkan sebelumnya, cukup lama, hingga menjelang sore. Setelah berbecek-becekan dengan Lumpur, tak terasa semua acara selesai kami lakukan, kamipun bersiap untuk pulang, berkemas, dan membersihkan diri. Belum hilang rasanya lelah kami setelah bermain outbond , saat pulang nanti kami harus melewati jalur yang sama seperti saat mendaki. Semua peserta dikumpulkan, untuk briefing terlebih dahulu, sambil mengecek barang-barang bawaan, yang akan dibawa pulang.“kak, Pulangnya nanti jalan kaya
Langganan:
Postingan (Atom)






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact